Riuh kemacetan Jakarta terasa semakin padat. Apalagi hujan yang mulai mereda setelah hampir seharian derasnya menyelimuti ibukota. Suara klakson mulai terdengar bersahutan malam itu. Hingga terlihat deretan pengemudi ojek online yang menunggu penumpangnya di pinggir jalan. Sambil sesekali melambai tangan ke arah orang-orang yang berjalan, hanya untuk memastikan salah satu dari mereka adalah penumpangnya. Meski beberapa kali tebakannya salah dan harus kembali menunggu sampai ada yang datang menghampiri.
“Thalia ya?”
Kata Cakra pada seseorang yang tiba-tiba masuk ke mobilnya.
“Jangan bercanda, ayo gue udah laper!”
Jawab wanita itu sambil sibuk membasuh rambutnya yang sedikit basah akibat rintikan hujan.
* * *
Dia lah Thalia, wanita yang sudah Cakra kenal sejak satu tahun belakangan. Cerita perkenalannya singkat, namun bisa dibilang cukup berkesan.
Seseorang yang Cakra temui di pesta pernikahan temannya tepat satu tahun lalu. Tepat dimana MC meneriakkan “you may now kiss your bride” dan semua mata tertuju pada pengantin, disambut tepuk tangan dan teriakan bahagia. Berbeda dengan para tamu yang lain, wanita itu memilih untuk duduk mematung sambil meneguk segelas sampanye.
“Boleh duduk disini?”
Wanita itu melirik sejenak sambil mempersilahkan. Dari raut wajahnya tampak ia sedang memikirkan sesuatu namun tetap berusaha untuk ramah.
“Jodoh itu unik ya, kaya Gery sama Nindya. Gue gak pernah nyangka kalo pada akhirnya Nindya bisa lepas dari hubungan toxicnya yang udah berjalan bertahun-tahun. Ratusan kali gue jadi tempatnya nangis, ngata-ngatain mantan nya, sampe akhirnya balikan lagi. Untung dia ketemu orang baik kaya Gery dan akhirnya mantap mutusin buat nikah.”
Kata wanita itu dengan tatapan bangga ke arah dua mempelai yang masih berdiri di pelaminan.
“Lo temen Gery? Atau teman kantornya Nindya?”
Tambahnya. Kali ini ia mengalihkan pandangannya ke arah Cakra.
“Kebetulan gue sahabat Gery dari jaman SMP. Betul kata lo, Gery orang yang baik, mau first impression atau udah lama sekalipun, gue ngerasain itu juga.”
Wanita itu pun mengangguk setuju dengan jawaban Cakra barusan.
“Oh iya gue, Cakra. Salam kenal.”
“Thalia”
Mereka saling bersalaman dan mengobrol panjang malam itu.
Tak lupa mereka mendokumentasikan diri di booth yang telah disiapkan oleh pengantin. Meski baru pertama kali bertemu, tidak terasa adanya kecanggungan diantara keduanya saat berfoto. Thalia orang yang cukup periang dan tentunya fotogenic. Hingga di setiap jepretan foto, ia terlihat sangat cantik apalagi dengan rambut lurusnya yang tergerai indah. Gaun hitam yang ia kenakan berpadu serasi dengan lipstik merah menyala, menambah kesan misterius sekaligus anggun. Malam itu, ia seolah menjelma menjadi sosok Veronica Lodge dalam serial Riverdale.
“Cheers to our new friendship!”
Katanya sambil berpose seolah-olah keduanya sedang bersulang di akhir sesi foto.
Foto kita blur tak banyak yang kulihat
Foto kita blur tapi banyak yang aku ingat
Foto kita blur kita pernah begitu dekat
Foto kita blur kini memorinya ku dekap
* * *
Sejak pertama bertemu, Cakra dan Thalia merasa memiliki banyak kesamaan. Mulai dari Thalia yang berzodiak Aries dan Cakra si Leo (sesama zodiak Api) yang selalu penuh semangat dan kompetitif, selera musik yang sama, pecinta traveling, sesama sweet tooth dan masih banyak hal lainnya. Inilah yang membuat keduanya semakin dekat. Setiap weekend mereka bertemu untuk menghabiskan waktu bersama, bahkan sesekali saat pulang kantor hanya untuk mencoba makanan manis hingga karaoke di mobil tanpa tujuan perjalanan yang jelas.
Tak hanya itu, komunikasi keduanya selalu berjalan setiap harinya. Disela-sela kesibukan, mereka terus bertukar kabar dan cerita. Sebagai seorang designer di sebuah brand kosmetik kelas dunia, Thalia selalu antusias untuk menceritakan projek-proyek yang ia kerjakan. Meski kadang ia mengeluh ketika kerjaan yang menumpuk dan deadline yang mepet, namun ia selalu tampak bangga menjadi bagian dari perusahaannya itu.
Sebuah pesan masuk di layar ponsel Cakra.
Thalia:
Finally, besok ketemu lo, Cak. Can’t waitt :* !!!!
Cakra tersenyum tipis membaca pesan itu. Selang beberapa menit, ada pesan lagi yang masuk.
Thalia:
Lo gak kangen gue apa???
Cakra secara cepat merespon chatnya.
Cakra:
Kangen dong, kenapa emangnya?
Pesan balasan datang secepat kilat yang membuatnya tertawa kecil.
Thalia:
Boong banget! Kalo kangen beneran harusnya bales emot kiss gue tadi!
Cakra:
Iye ini! KANGEN THALIA DEH HUHU :*!
Thalia:
Nah gitu dong! Hahaha, SEE U CAKKK!
Pernah ada hati merah muda terbang terbang di atas kepala
Lompat lompat kegirangan lalu duduk duduk manis di pipimu
Juga titik dua tanda bintang dengan banyak tanda tanda seru
Tanpa banyak tanda tanya sering kita saling kirim cium jauh
* * *
“Mau makan kemana kita malam ini?”
Kata Cakra. Tampak Thalia masih sibuk melihat ke arah handphonenya untuk mencari rekomendasi makanan di TikTok.
“Ini udah pernah, ini udah juga.”
Katanya sambil sibuk men-scrolling laman beranda.
“Mau di blok M? Kan banyak pilihannya disitu daripada nyari-nyari di TikTok ga nemu.”
“Nah, good idea! gue juga kepikiran tadi. Sekalian abis itu kita strolling around blok M buat nyari…”
“Banoffee tiramisu atau blueberry pancake, dessert kesukaan Thalia dan Cakra!”
Kata keduanya bersamaan.
Malam itu, mereka memilih untuk mengunjungi kafe “manis” di blok M setelah sebelumnya menyantap ramen. Mata Thalia terlihat berbinar-binar setelah melihat cake-cake cantik tersaji di depannya.
Ia segera mengambil sendok kecil dan mulai menyantap sedikit demi sedikit sambil bergumam kecil.
“Gimana? enak gak?”
Kata Cakra. Thalia tidak menjawab langsung tapi dari ekspresi wajahnya sudah menjelaskan bahwa ia puas dengan santapannya malam itu.
“By the way, Thal. Lo kan suka banget sama makanan manis. Apa lo gak pengen bikin bakery? Gue yakin bakal rame banget, apalagi lo udah punya banyak pengalaman cicipin cake-cake manis dari seluruh penjuru negara.”
Thalia melirik ke arahnya sambil tersenyum.
“Kayanya gue gak bakat deh, Cak. Masakan rumahan aja gue sering gagal, apalagi bikin kue.”
“Loh kenapa? lo belum coba kali, siapa tau emang berbakat disitu. Gue siap kok buat jadi kelinci percobaannya buat nyicipin cake buatan lo sebelum dijual di pasaran. Atau kita bikin toko bakery bareng, kayanya seru!”
Kali ini mata Cakra yang tampak berbinar-binar penuh semangat, seolah ide ini cukup cemerlang untuk dijalani keduanya.
“Coba lo bayangin, Thal. Tiap weekend kita jelajahi toko-toko bakery di Jakarta, trus kalo nemu yang enak kita cobain bikin bareng-bareng. Bayangin, kita ngabisin waktu berjam-jam di dapur sambil dengerin lagu-lagu yang biasa kita puter di mobil biar suasana tetap seru dan ga stres. Sampai akhirnya kita berhasil ciptain menu-menu ‘ajaib’ yang bisa bikin pelanggan tergila-gila sama kue buatan kita.”
“Bagus juga ide lo. Jujur gue pernah punya cita-cita bikin bisnis, bahkan udah nyisihin uang tabungan khusus buat ini. Cuma sampai sekarang, gue belum nemu ide bisnis yang pas. Bakery sounds like a great place to start, sih.”
Jawab Thalia sambil mengangguk.
“Menurut lo namanya yang cocok apa, Cak?”
“Hm.. Thalia Madhava Bakery. Nama depan lo dan nama belakang gue. Keren gak?”
Sahut Cakra dengan senyum lebar.
“Bagus banget! Bener ya kita usahain bikin bisnis ini suatu hari nanti? Janji, Mr. Pastry?”
Kata Thalia sambil mengulurkan janji kelingkingnya ke arah Cakra dengan ekspresi penuh harap.
“Janji! Ms. Blueberry, blueberry pancake!”
Jawab Cakra melingkarkan jari kelingking pada Thalia sambil menyantap blueberry pancake yang tersaji di hadapannya.
Memilih nama panggilan mesra
Kamu blueberry dan aku pastry
Nama depanmu nama belakangku
Jadi nama toko roti
* * *
Ku tutup dengan satu trik sulap
Kau bisa hilang secepat kilat
Ingin aku tepuk tangan
Tapi belum juga melihatmu kembali
Seminggu berlalu tanpa kabar Thalia. Bahkan pesan singkat yang sudah dikirim berkali-kali oleh Cakra, pada akhirnya tidak mendapat respon.
“Thalia, are you okay?”
Malam ini Cakra kembali berusaha menghubungi Thalia. Meski ia tahu, Thalia tidak akan membalas pesannya seperti hari-hari sebelumnya.
Tepat seminggu yang lalu, Cakra akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Thalia. Dengan kedekatan mereka yang sudah berjalan satu tahun lebih, ia merasa keduanya harus segera menjalin hubungan yang serius.
Meski selama ini Thalia tidak pernah mau untuk membahas tentang perasaannya, namun ia selalu beranggapan bahwa Thalia bukanlah tipe orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaannya meski secara tidak langsung sekalipun.
“Thal, kita udah setahun bareng-bareng kaya sekarang ini. Kayanya gue mau serius sama lo.”
“Maksud lo, Cak?”
“Kita udah saling nyaman dan cocok, Thal. I know you feel it too. And it’s time for us to take the next step. Thalia, I’ve loved you since we first met and until now, that hasn’t changed. Gue suka cara pikir lo, cara komunikasi kita, the way you give me attention and how you treat not just me but everyone around us. You’re such a wonderful person and I know if one day we grow together as a couple, we'll become the happiest husband and wife in the world!”
Dalam beberapa menit saja, suasana menjadi hening.
Thalia belum merespon, namun terdengar nafasnya yang sedikit berat. Entah karena ia sedang memikirkan jawabannya atau ada hal lain yang memenuhi pikirannya saat itu.
“Thalia?”
Cakra memandang ke arah Thalia yang masih tampak kosong.
“Sorry Cak, 12 tahun bukan waktu yang sebentar. Gue masih belum bisa buka hati ke siapapun sekarang.”
Kata Thalia dengan tatapan nanar.
“Lo masih mikirin Petra, yang udah sejahat itu ninggalin lo setelah 12 tahun kalian pacaran. Tiba-tiba mutusin dan gak kasih kabar sampai hari ini?”
Thalia memilih untuk diam.
“Thal, kenapa setidaknya gak mau coba? Kayak Nindya sama Gerry. Kita sama sekali gak ada harapan?”
“Gak bisa, Cak. Kita udah sedekat ini, gue cuma berharap bisa terus sahabatan sama lo kaya sekarang.”
“Apa sih yang masih lo tunggu dari dia?”
Thalia terdiam sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
“Sampai gue bisa benar-benar lepas dari bayangan Petra, Cak. Yang gue gak tau sampai kapan itu. Atau mungkin sampai Petra balik lagi ngehubungin gue suatu hari nanti.”
Udara malam itu terasa semakin menusuk. Cahaya gedung-gedung tinggi di Jakarta terasa redup perlahan di mata Cakra. Tepat setelah keduanya berpelukan dan memutuskan untuk berpisah malam itu. Perlahan bayang-bayang Thalia hilang dari pandangannya. Sampai akhirnya ia sadar, malam itu akan menjadi malam terakhir ia melihat Thalia lagi.
Tak bisa jelas aku lihat
Senyum yang pernah hiasi duniaku
Masih jelas aku teringat
Bagaimana hariku pernah kelabu
* * *
Setahun berlalu tanpa Thalia.
Cakra mulai terbiasa untuk tidak mendapat pesan dari wanita itu. Ia merasa sedikit beruntung, karena kesibukan kerjanya akhir-akhir ini membuat pikirannya teralihkan. Sesekali Cakra memilih menghabiskan weekend untuk mencoba bakery-bakery di Jakarta. Bahkan ketika jadwal dinas ke luar kota dan luar negeri, ia menyempatkan diri untuk mencoba bakery disana. Sekedar untuk memenuhi sweet tooth-nya, dan juga ia berharap suatu hari nanti bertemu dengan Thalia dan bisa berkomunikasi lagi meski pastinya akan terasa canggung.
Hingga akhirnya ia berkunjung ke sebuah bakery di daerah Jogja. Lokasinya kurang strategis, masuk ke jalanan kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Namun ketika sampai di tempat, ia sedikit berdecak kagum. Dekorasi bakery ini cukup minimalis, dengan hiasan foto-foto dan lukisan manis yang terpajang di setiap sudut ruangan. Aroma manis dari cinamon tercium begitu pintu dibuka, menambah hangat suasana.
Untuk varian menunya juga cukup beragam, mulai dari Artisan breads seperti sourdough loaf, original croissant, hingga fancy pastries seperti baguette dan cake-cake unik ada disana.
Ia pun memilih beberapa varian cake yang menjadi menu favorit disana.
‘Pantas saja banyak yang merekomendasikan tempat ini’
Batinnya setelah menyantap cake yang rasanya mirip dengan yang pernah ia coba ketika berkunjung di blok M bersama Thalia waktu itu. Tiba-tiba ia kembali teringat pada Thalia dan mencoba mencari tahu kabarnya di media sosial Instagram. Tampak foto terakhir yang Thalia unggah adalah foto dirinya sambil memanggang roti. Selama lebih dari setahun mengenalnya, Thalia selalu merasa tidak percaya diri untuk membuat roti. Tetapi dalam foto itu, tampak raut wajah bahagianya sambil memamerkan deretan kue cantik yang sepertinya ia hias sendiri.
Dalam beberapa saat, Cakra merasa tidak asing dengan kue yang ada di postingan Thalia. Ya, bentuk hiasannya sama persis dengan kue yang ia makan saat ini. Dan yang membuatnya terkejut ketika melihat toko kue yang ia datangi sama persis dengan yang ada diunggah oleh Thalia.
Bahkan dengan keterangan di postingannya yang menggambarkan perasaannya saat ini, seolah menyimpan pesan tersirat:
One day, I'll be in the kitchen again. Baking cakes and trying out a new recipe again. I'll be decorating rows of colorful cakes on the table, imagining the joy on someone’s face when he tastes it. And from that moment, he'll realize I’ve become his favorite baker.
I'll dream of opening a bakery again, with his favorite cake as the star of the menu. I’ll bake thousands of beautiful loaves, and save the best one just for him. Until he finally visits the shop and tastes it, he will tell me once more that I’m his favorite baker, forever.
One day, I won't be afraid to do any of it.
Thadava Bakery, benar. Tempat yang sama yang didatangi Cakra hari ini. Dengan salah satu foto yang terpampang di sudut toko, adalah photobooth nya dengan Thalia saat pesta pernikahan teman mereka, dimana mereka pertama bertemu.
Foto yang sedikit blur, hasil dari gerakan mendadak Cakra yang mundur cepat, tepat ketika Thalia tiba-tiba mencoba mendekatkan bibirnya ke arahnya.
Foto kita blur tak banyak yang kulihat
Foto kita blur tapi banyak yang aku ingat
Foto kita blur kita pernah begitu dekat
Foto kita blur kini memorinya ku dekap